Coming Soon: Ducati Yogyakarta January 10, 2012
Posted by neevsfc in Uncategorized.Tags: dealer, ducati, hypermotard, indonesia, jogja, jogjakarta, launching, monster, panigale, yogya, yogyakarta
add a comment
28 Desember lalu, ketika sedang jalan-jalan di Jl. Godean, ternyata ada bangunan baru jadi disini. Guess what?
Ducati Yogyakarta
Semakin dekat dengan konsumen. Semoga juga menambah semangatku untuk meminang sebuah Panigale S dari dalamnya.
Bersiaplah Jogja, tunggu saja openingnya.
Ciao.
Hari Ibu December 23, 2011
Posted by neevsfc in Uncategorized.add a comment
Beberapa Kebohongan Ibu.
- Saat makan jika makanannya kurang, ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya&berkata: “cepat makan nak, ibu tidak lapar”
- Waktu makan ia selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata: “Ibu tidak suka makan daging, makanlah nak”
- Tengah malam saat dia menjaga anaknya yang sedang sakit, ia berkata: “istirahatlah nak .. ibu masih belum ngantuk”
- Saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk ibu, ia berkata: “simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang”
- Saat anak sudah sukses, jemput ibu untuk tinggal di rumah besarnya, ia berkata: “rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tinggal disana”
- Saat menjelang tua, ibu sakit keras. Anaknya menangis tetapi ibu masih bisa tersenyum sambil berkata: “jangan menangis nak, ibu tidak apa-apa”
Barangkali itu tadi kebohongan ibu yang terakhir diucapkan. Ibu telah memberikan segalanya untuk kita tanpa pernah mengharap pamrih dari kita.
Aksi KMFH di Desa Binaan November 28, 2011
Posted by neevsfc in kehidupan bermahasiswa.Tags: Binaan, Desa, Fakultas Hukum, KMFH, UGM
add a comment
Akhirnya sampai juga kami pada tanggal yang ditunggu-tunggu, 5 November 2011. Di sore hari Jumat yang cerah, kami berkumpul di sekitar Mushola Baitul Hakim, markas kami para Pengurus KMFH, untuk berangkat bersama ke desa binaan KMFH; Desa Jojoran Kulon, Bantul. Rencananya, kami akan melaksanakan Shalat Idul Adha dan memotong hewan kurban bersama dengan warga desa tersebut.
Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Hadits ini dishahihkan oleh Nashiruddin al Albani didalam “ash Shahihah” nya.
Terinspirasi oleh hadits diatas, kami sangat antusias untuk menuju ke sana, karena bagi sebagian dari kami, acara ini merupakan pertama kalinya “turun langsung ke masyarakat”. Mata-mata berbinar terlihat di sekitar. Terutama para angkatan 2011.
Transportasi utama yang akan membawa kami ke sana adalah sebuah Bis Kota yang disewa. Namun, karena kendala kapasitas, maka beberapa dari kami memilih untuk menggunakan motor untuk sampai di sana. Setelah perjalanan selama sekitar 1 jam, kami sampai di Desa Jojoran Kulon, sebuah desa berpenduduk ramah yang berada di sebelah barat Kota Yogyakarta. Udara petang yang hangat seolah menyambut kedatangan kami. Selanjutnya, kami dibimbing untuk menuju Masjid Al Himmah, satu-satunya masjid yang ada di desa itu.
Dinding semen yang belum rampung diplester dan dicat menjadi hal pertama yang dikesankan masjid tersebut. Kami menduga-duga, mungkin disebabkan keterbatasan dana yang dimiliki desa tersebut. Langit-langit masjid yang tidak berplafon dan digunakan laba-laba untuk bersarang menambah kuat rasa prihatin kami terhadap desa itu. Namun, disamping semua hal menyedihkan tersebut, kami bersyukur di desa itu masih ada masjid.
Waktu Maghrib datang. Kami pun bersiap untuk shalat berjamaah bersama warga desa. Uniknya, untuk berwudhu, kami harus menimba air terlebih dahulu. Ternyata Desa Jojoran Kulon ini merupakan salah satu desa yang kering dan sulit untuk mendapatkan air. Hal itu dapat dilihat dari kedalaman sumur yang “hanya tuhan yang tahu”. Permukaan air sumur tidak dapat dilihat karena berada jauh di kedalaman.
Setelah Shalat Maghrib dan makan malam, kami bergantian mengumandangkan takbir di Masjid Al Himmah sambil menunggu datangnya waktu Azan Isya. Setelah Azan Isya dikumandangkan, kami pun shalat. Selepas Shalat isya, Bapak Takmir Masjid menyampaikan sambutan kepada kami, dalam Bahasa Jawa.
Beberapa dari kami mengerti, tetapi sebagian lagi tidak. Maklum, Ia menggunakan Bahasa Jawa Kromo Hinggil alias Bahasa Jawa yang sangat sopan. Bahkan beberapa dari kami yang orang jawa pun kadang mengernyitkan mata tanda tak mengerti. Ia acapkali menyebut kami ‘Mahasiswa-mahasiswi UGM Ngayogyakarto’. Tak sekalipun ia memanggil cah UGM atau anak UGM. Mungkin inilah bentuk penghormatan mereka bagi kami, sekaligus menunjukkan kesopanan njawaning desa tersebut.
Ketika Bapak Takmir Masjid selesai menyampaikan sambutannya, Rahmat Hisyam Pamady mewakili kami dalam memperkenalkan profil KMFH dan tujuan kami berada di Desa Jojoran Kulon, tentunya dalam Bahasa Jawa.
“Kawulo perwakilan saking mahasiswa muslim Fakultas Hukum UGM ngaturaken agungin pangapunten, kalian ngaturaken panuwun sewu, kawulo kalian rencang-rencang badhe ngawontenaken acara semarak Idul Adha dateng dusun Jojoran Kulon sameniko”, demikian ujarnya sambil tersenyum dan mengangguk-angguk, meniru gesture Pak Takmir ketika menyempaikan sambutannya tadi.
Di belakang layar, Ia memberitahukan arti kata-katanya kepada kami. Intinya Ia menyampaikan permintaan maaf jika kedatangan kami akan merepotkan, serta meminta izin untuk mengadakan acara Semarak Idul Adha dan pemotongan hewan Qurban di Desa Jojoran Kulon. Beberapa sambutan lain juga disampaikan oleh Ketua Rangkaian Acara Semarak Idul Adha dan Muslim Law Fair 2011, Ginanjar Julian Azizi, serta oleh Kepala Desa Jojoran kulon. Lalu dilanjutkan dengan ceramah oleh Ketua KMFH Ahmad Fikri Mubarok.
Ceramah kali ini sedikit berbeda dengan ceramah pada umumnya. Bukan topik atau cara penyampaiannya yang berbeda, melainkan kondisi ruangan masjid saat itu. Tanpa kami menduganya, satu demi satu laron berdatangan. Tak disangka, akhirnya ribuan laron berputar-putar di sekitar kami malam itu, seolah-olah mengucapkan selamat datang.
“Pfueh pfueh!!” salah satu teman kami secara refleks tiba-tiba meludah.
Ternyata seekor laron memasuki mulutnya yang sedang menganga. Kami pun tertawa melihat tingkahnya.
Acara selanjutnya adalah takbiran serta pawai obor bersama anak-anak kecil warga desa tersebut. Belasan anak kami ajak untuk ikut berkeliling desa mengumandangkan takbir dan tahlil. Semangat mereka terlihat begitu menggelora. Celoteh dan tawa menghiasi perjalanan kami bersama belasan anak-anak desa di malam itu.
Semangat yang meletup-letup ditunjukkan oleh Ryan Gusti, pemandu jalannya acara pawai obor ini. “Ayo, semua ikuti saya. Harus kompak. Allaahuakbar!!!” begitu semangat terdengar suara dengan logat Sumatranya. Jalan tanah yang lengket dan dinginnya malam tidak begitu kami rasakan. Mungkin karena kehangatan acara malam itu. Mata dari beberapa kami terlihat begitu berbinar dan begitu bahagia, mungkin baru kali ini merasakan arti kepedulian itu secara langsung.
Perjalanan malam itu pun berakhir di halaman masjid. Kami berharap agar tradisi baik di malam takbiran ini terus terjaga di desa ini.
***
Esoknya, kami bangun tidur sekitar setengah jam sebelum waktu Subuh. Sehingga beberapa menit setelah kami melaksanakan Qiyamullail, Azan Subuh langsung dikumandangkan. Sehabis shalat subuh, kami harus kembali menghadapi realita keterbatasan air di masjid tersebut. Akhirnya, sebagian dari kami memilih untuk menimba air untuk mandi. Beberapa lainnya memutuskan untuk mendatangi rumah warga dan menumpang mandi disana.
“Sekalian silaturahmi”, begitu ujar mereka.
Saat Sholat Idul Adha dilaksanakan, para jamaah yang berwajah cerah mengisi penuh masjid yang sederhana itu. Ketika khutbah ied disampaikan, kami kembali mengernyitkan mata. Maklum, banyak dari kami yang masih beradaptasi dengan Bahasa Jawa. Sesudah khutbah, kami saling menanyakan, “Ngerti ora kowe?” kebanaykan menggelengkan kepala tanda tak mengerti.
Tiba saatnya pemotongan hewan qurban. Selagi para warga dan beberapa anggota KMFH laki-laki memotong hewan qurban dan mengolahnya, anak-anak kami ajak untuk bermain di pelataran Masjid Al Himmah. Memang awalnya sulit mengajak mereka untuk bermain bersama. Mungkin karena masih asingnya kami di mata mereka. Namun, setelah upaya yang cukup lama dan diiming-imingi susu botol, mereka akhirnya mau mengikuti kami bermain uji konsentrasi dan kekompakan. Gelak tawa memenuhi suasana di pagi hari itu. Kami berpikir, anak-anak kecil ini harus sering mendapatkan kegiatan postif sekaligus menyenangkan seperti ini. Jika tidak, mungkin hanya televisi dan hape yang akan memenuhi keseharian anak-anak ini.
Setelah 9 ekor kambing qurban rampung diolah dan dibagikan, kami bersiap untuk meninggalkan Desa Jojoran Kulon. Kesadaran akan keberadaan saudara-saudara kita yang nasibnya kurang beruntung begitu melekat di hati kami. Pesan terakhir Bapak Takmir Masjid sebelum kami pulang adalah, jadilah mahasiswa yang berguna di dalam dan di luar kampus. Kami diharapkannya untuk menjadi orang yang berpengaruh agar bisa membangun desa ini, serta desa-desa lainnya di seluruh negeri ini.
Rintik gerimis di siang hari itu menemani kepulangan kami dari Desa Binaan Jojoran Kulon. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan telah kami lalui. Semoga harapan Bapak Takmir Masjid bisa kami wujudkan.
Semoga…

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
{QS. Ali Imran: 110}
Photo Gallery
- Perhatikan laron di sekitar…
Ini cerita NF-ku. Bagaimana ceritamu? November 14, 2011
Posted by neevsfc in impian.Tags: FH UGM, lulus, Nurul Fikri, SNMPTN, UGM, Universitas Gadjah Mada, Universitas Gajah Mada
3 comments
Mari maju bersama Allah menuju Masa Depan Cemerlang
“Hmm… Slogan yang menarik”, pikirku waktu itu; semester 2-ku di kelas XI SMAN 34 Jakarta. Berbekal ketidaktahuan dan kecintaanku kepada iklan (nah, ini sesuatu banget. Aku jauh lebih suka menikmati iklan dalam bentuk brosur, flyer, TVC dsb. dibandingkan membaca review, sekalipun yang paling objektif dan akurat. Huahahahaha), aku menguatkan hati untuk mengikuti bimbel Nurul Fikri ketika awal kelas XII nanti. Bismillah.
Kita melompat ke topik lain dulu ya…
*wouush*
Sebagai informasi, sejarah kelam persekolahanku (?) di bidang eksakta entah mengapa selalu berulang. Hal ini dimulai pada kelas 4 SD, dimana aku mulai menyadari ada yang salah dengan logika matematika-ku. Aku dapat nilai 50 di EHB semester 1. Aku menjawab 10 soal dengan tepat. Sayangnya soalnya ada 20. Azzzzt~
Di kelas 5, kami sekelas diwajibkan untuk mengikuti les matematika bersama Bu Yayah (wali kelas 5B waktu itu). Ada sebuah challenge yang beliau ajukan; siapa yang dapat meyelesaikan 5 soal darinya, boleh pulang. Dan apa yang terjadi sodara-sodara, aku hampir selalu pulang terakhir. -,- Hal ini terus berlangsung selama hampir 1 tahun. Namun, di akhir masa kelas 5 aku menyadari bahwa aku memang kurang bisa mengatasi persoalan eksak, maka aku harus berusaha lebih dari yang lain.
Waktu-demi-waktu pun berlalu, dan aku mampu menjadi yang tercepat keluar dari kelas les-nya Bu Yayah. Hore… tepuk tangan!
Kali ini kita bicara proses pembelajaranku di kelas 7 MTsN 3. Di sinilah aku mulai mengenal pelajaran yang namanya Biologi. Tau ‘kan, pelajaran biologi awal SMP adalah menghafalkan -logi -logi itu.
bla bla logi adalah ilmu yang mempelajari tentang bla bla… planologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perencanaan tata ruang kota (mana ada planologi di kelas 7).
Lagi-lagi, hasilnya adalah kekacauan nilai biologi. Ditambah lagi dengan fisika. Bagaimana agar lampu A dapat menyala? Tunjukkan aliran arus listriknya *dalam hati, ya ampun pak, mending ajarin kita agar mengeringkan tangan sebelum memencet saklar. Biar ngga kesetrum*. Intinya, tahun-tahun awal bersekolahku seringkali tidak dapat disebut “terpuji”. Namun, aku bisa menjadi ranking 1 di akhir kelas 9, dan nilai UN-ku terbaik kedua se-sekolah (how could? well, HE is ALWAYS there to give the best for your effort). Alhamdulillah.
Ketika aku dapat memasuki SMA 34 dengan (alhamdulillah) jujur dan bersih, aku merasa sangat berbahagia bisa menjadi bagian dari sekolah yang katanya bagus ini (padahal milih nih sekolah gara2 waktu disurvei masjidnya terasa adem dan ada air mancurnya, serius ‘cuma’ itu alasannya). *oh baitul ilmi :’-)*
Bisa ditebak kan, aku mau ngomong apa… Yah, ketika masuk SMA, nilai-nilai akademis-ku kembali kacau. Aku mengalami cultural shock yang sangat besar. Di sini kita dituntut untuk mengerjakan banyak (eh, salah. Buuaanyaak) tugas dalam waktu yang sempit. Serius, lebih banyak dari pada semseter satu di FH UGM. Ehm… ranking 35 dan nilai kimia semester 1 sebesar 39 pastinya akan cukup menjelaskan kondisi saat itu. Dari seluruh ulangan harian selama setahun belajar kimia di 34, aku berhasil tidak remedial SATU KALI, yaitu di bab Elektrolit. Sisanya yang sekian belas bab plus UTS-UAS; selalu remedial. Nilai-ku tidak pernah menyentuh batas minimal 75.
Namun, di akhir masa sekolahku di 34, aku bisa lulus UN dengan jujur. Alhamdulillah.
kok aku selalu diizinkan untuk mengejar ketertinggalan di akhir waktu ya? wallahu a’lam.
kembali ke per-NF-an lagi
*wouush*

Pada awal tahun 2010, sedang hot-hotnya berita tentang kemana studi tur 34 akan dilangsungkan. Yang pada akhirnya diputuskan ke Jogja (dilaksanakan di Juni 2010). Mayoritas teman-teman sangat antusias untuk mengikuti acara ini. Bagaimana denganku? Apakah pengen untuk ikut? Tentu saja, PENGEN BANGET.
Mamah pun menyarankanku untuk ikut. Tapi, entah dapet bisikan dari mana, aku memutuskan untuk bilang ke mamah, “ga usah ikut deh mah. Lumayan kan 700rb bisa untuk nambahin bayar NF” *ya ampuun, gak kebayang seorang gue bisa ngomong gitu*
Tahukah kalian rasanya menyaksikan bus pariwisata, yang berisi teman-teman yang menuju jogja, mulai meninggalkan jalan di depan sekolah? #curhat
Apa lagi pas mereka pulang membawa foto-foto selama di sana. Ada sesi foto di depan Grha Sabha Pramana juga lagi. Wow, ngiri sangat! Tapi, genderang telah ditabuh. Mengapa harus menyesal dan mundur? *tsahh* mari maju ke medan juang. Di awal kelas 12, mulailah aku mengikuti NF. Tentu saja sangat ngga asik awalnya. Biasanya pulang sampai rumah jam 5-an. Pas udah mulai NF, setiap Senin dan Rabu harus rela sampai rumah jam 8.30 malam.
Begiituu terus berulang-ulang, sampai akhirnya timbul rasa males. Rekor terburukku adalah tidak datang tiga pertemuan berturut-turut. Cuma hasilnya adalah ketertinggalan yang cukup jauh (maklum, PPLS memang gayanya demikian). Singkat kata, try-out demi try-out dijalani. Dan akhirnya bisa mendapat nilai yang bisa dibilang “aman untuk masuk FH UGM”. Oh iya, dalam perjalanan ber-NF, tidak semua dari kita bisa istiqomah loh. Ada juga yang merasa terganggu kenyamanan hidupnya, dan sering bolos pada pelajaran-pelajaran tertentu.
Ada pelajaran BIP, aku lupa singkatan dari apa, yaitu pelajaran akhlak islami, konseling, dan merupakan waktu yang disediakan oleh NF untuk bertanya-tanya tentang bagaimana menghadapi SNMPTN dan menghadapi kuliah nanti. Pelajaran ini merupakan pelajaran favorit kebanyakan dari kita, untuk cabut pulang. Huehehehe. Sampai-sampai sang gurunya terlihat sedih. Karena di jam sebelumnya kelasnya penuh, tapi pas pelajaran dia tiba-tiba berkurang sebesar 67%.
Nah, di sinilah terjadi hal yang luar biasa. Aku entah mengapa bisa membaca kesedihan di mata pengajarnya, lalu berdo’a; ya Allah, luluskanlah kami, yang memilih untuk bertahan ini, di Perguruan Tinggi yang kami inginkan dan engkau kehendaki. And the result is: 100% dari yang memilih untuk mengikuti pelajaran di hari itu, dapet PTN yang diinginkan dan (insya Allah) tepat bagi mereka.
Seratus persen.
Aku sebutin yang kuinget aja ya… Manajemen UIN, Sastra Jepang UI, Komunikasi UI, MIPA UGM, FH UGM, dan masih ada lagi yang belum tersebutkan.
To get something special, you have to do something special.
Aku sangat meyakini kalimat diatas. Oh iya, mungkin kakak pengajarnya juga mendoakan kita-kita yang waktu itu memilih untuk bertahan di kelas BIP.

Ini nilai prakiraan nasionalku. Nilai minimal masuk FH UGM adalah 675. Jadi kira-kira bisa lah masuk
Mendekati pelaksanaan ujian SNMPTN, kami mulai “sadar diri”. Kami harus benar-benar berkorban agar bisa mendapatkan yang kami cita-citakan. Hehehe… kami tiba-tiba jadi rajin mengerjakan soal-soal Problem Set. Tiba-tiba jadi sering konsultasi sama kakak-kakaknya (trims Kak Sri, Kak Rahmat, Pak Max, dan Ibu, Bapak, Kakak lainnya yang belum disebutkan). Namun, tetep aja yang namanya Matematika, lagi-lagi tidak bersahabat sama diriku. Kalau pelajaran sosiologi, bisa nyesel abis kalau nggak bisa mengisi dengan benar 10 dari 15 nomor soal. Tapi kalau matematika bisa ngisi 2 nomooor aja, akan terasa bagaikan ada Ray of Light muncul dari awan… SFX: Whoang-whoang-whoang~
Kalau matematika bisa ngisi 4 nomor, berarti kepribadianku yang lain yang ngerjain. :p *ya, beneran separah itu keadaannya*
Lihat betapa wow-nya nilai matematika dasarku. Nilai maks: 60 per-mata ujian.
But, thanks to Ali Arab, Fady, Dapit, dan Galih yang mau mengajariku matematika (pasti kalian kesulitan melakukannya :p). Dengan segenap usaha, akhirnya bisa juga pas SNMPTN ngerjain 5 NOMOR dengan benar. Ya ampun, harusnya gue masuk MURI tuh. Alhamdulillah..
***
30 Juni merupakan tanggal paling dagdigdug bagi kita-kita para peserta SNMPTN. Semua kemungkinan bisa terjadi pada tanggal ini. Oh iya, aku sudah mempersiapkan diri jika tidak lulus, mau memulai bisnis peternakan bebek. Ini serius. Lebih detilnya tentang kondisi tanggal 30 ini bisa dibaca di blognya Mamah. http://endohsite.blogspot.com/2011/11/jogja-i-am-coming.html
Alhamdulillah. Kehidupanku memang misterius dan tidak pernah bisa lepas dari kata Alhamdulillah. Aku ditakdirkan untuk melanjutkan belajarku di UGM. Saat itulah kurasakan apa yang namanya “nyengir 1 jam”. Nearly 1 jam, aku tidak bisa mengekspresikan apapun kecuali nyengir.
Walau tidak bisa berada di depan GSP bersama teman-teman 34, at least sekarang aku bisa kapanpun datang ke GSP
Alhamdulillah, alhamdulillah, all praise is to Allah, all praise is to Allah.
Terima kasih untuk Bimbel Nurul Fikri yang telah menjadi salah satu sebab yang mengantarkanku menuju batu loncatan selanjutnya untuk menggapai impian-impianku. Insya Allah.
Sebuah Nasihat November 8, 2011
Posted by neevsfc in Uncategorized.add a comment

Kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia
~Hasan Al Banna (1906 – 1949)~
Whoever he is, I still don’t really care, I do agree with him and sometimes try to do what he said.
Bismillah…
DD-LKC Blogging Competition! November 1, 2011
Posted by neevsfc in Uncategorized.1 comment so far
Ayo! Bagi para penghuni dunia blog, baik yang sophisticated maupun yang freestyle. Join this competition.
Ayo, tunjukkan kepedulian kita sebagai blogger sejati dan bounty hunter!
Eat for Life October 31, 2011
Posted by neevsfc in kehidupan bermahasiswa.2 comments

eat. pray. love.
Sebenarnya posting kali ini bukan mau membahas buku ini. Apa lagi meneliti ketiga aspek di judul buku ini secara komprehensif (zzzt, korban UTS).
Begini. Maghrib hari ini, aku makan di Ayam Kremes Tulang Lunak (deket rumah di jogja) yang harganya cukup bersahabat. Rp 7.500 untuk nasi dan sepotong besar ayam yang bisa dimakan tulangnya plus lalap. Nah, pas akan meninggalkan tempat makan tsb. terpikirikan sesuatu olehku,
“dalam sehari biasanya pengeluaran untuk makanan berkisar 20rb, sebenarnya untuk apa ya (for what it’s worth?) aku mengeluarkan uang sebanyak sekian setiap harinya?”
***
Ada pepatah yang bilang Eat to live, not Live to eat. Ya, aku setuju sama kalimat tersebut. Hidup ini lebih dari soal perut (kan juga ada soal hati) : P
Selanjutnya, kalau kita melandaskan kepada panduan dari Al Qur’an, memang kita ini diciptakan untuk beribadah.
![]()
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
{Az Zariyat: 56}
Kalau kita perhatikan ayat diatas, jelaslah bahwa kita ini berada di dunia untuk beribadah. Oh iya, perlu diingat, yang kumaksud adalah beribadah dalam arti yang luas ya..
Nah, poin yang mau kusampaikan, ingat-ingatlah biaya operasional kehidupan kita. Kan seperti yang kita tau, sebuah perusahaan yang mendapat profit adalah perusahaan yang produksinya (actually, hasil penjualannya sih) lebih besar dari biaya operasionalnya.
Kalau kita adaptasikan ke kehidupan kita, maka kita akan menjadi orang yang beruntung kalau produktivitas kita diatas biaya yang harus kita keluarkan untuk hidup. Produktivitas ini bisa berupa karya untuk diri sendiri, karya untuk orang lain (masyarakat), ataupun penghasilan berupa uang. Dengan catatan sebaiknya semua “hasil produksi” tadi sejalan dengan QS. Az Zariyat: 56 tadi. Jadi nilai ibadahnya dapet, manfaat langsungnya juga dapet.

Coba perhatikan ini, (menurutku lho) semahal dan semewah apapun makanan Pak Obama, tidak akan masalah. Karena karya dan prestasinya seimbang dengan cost yang ia keluarkan untuk ‘makanan kepresidenan’.
Apakah pak pres kita juga demikian??
Contoh lain, ketika Jason Statham membeli Ducati Desmosedici RR *yang harganya Rp 1,8 M* tidak akan masalah, karena ketika ia gunakan Desmo-nya untuk scene-scene di film The Expendables, ia akan menghasilkan profit yang lebih banyak lagi.

*sebenernya ini kontradiktif sama dream-ku; jalan-jalan malem di kota jogja dan ciputat dengan 848 EVO* bodo
Ingat, orang yang beruntung adalah orang yang value karyanya lebih besar dari operational cost-nya.
Apa lagi kalau kita sempitkan ke kehidupan mahasiswa, which is (biasanya) duitnya disuplai sama ortu. Mesti lebih bekerja keras dan berkarya dong.
Doain ya, semoga ini bukan cuma 'omdo' gue.. Amiin.
Gunakan bahan bakar kehidupan kita untuk hal-hal yang produktif bin bermanfaat.
-neevsfc











![MVI_2939.MOV_snapshot_00.07_[2011.11.28_21.12.40] MVI_2939.MOV_snapshot_00.07_[2011.11.28_21.12.40]](http://neevswritingspace.files.wordpress.com/2011/11/mvi_2939-mov_snapshot_00-07_2011-11-28_21-12-40.jpg?w=150&h=112)
![MVI_2960.MOV_snapshot_00.03_[2011.11.28_21.07.18] MVI_2960.MOV_snapshot_00.03_[2011.11.28_21.07.18]](http://neevswritingspace.files.wordpress.com/2011/11/mvi_2960-mov_snapshot_00-03_2011-11-28_21-07-18.jpg?w=150&h=112)
![MVI_2961.MOV_snapshot_00.03_[2011.11.28_21.05.30] MVI_2961.MOV_snapshot_00.03_[2011.11.28_21.05.30]](http://neevswritingspace.files.wordpress.com/2011/11/mvi_2961-mov_snapshot_00-03_2011-11-28_21-05-30.jpg?w=150&h=112)
![MVI_2968.MOV_snapshot_00.00_[2011.11.28_21.08.08] MVI_2968.MOV_snapshot_00.00_[2011.11.28_21.08.08]](http://neevswritingspace.files.wordpress.com/2011/11/mvi_2968-mov_snapshot_00-00_2011-11-28_21-08-08.jpg?w=150&h=112)
![MVI_2972.MOV_snapshot_00.04_[2011.11.28_21.11.33] MVI_2972.MOV_snapshot_00.04_[2011.11.28_21.11.33]](http://neevswritingspace.files.wordpress.com/2011/11/mvi_2972-mov_snapshot_00-04_2011-11-28_21-11-33.jpg?w=150&h=112)
![MVI_2989.MOV_snapshot_00.04_[2011.11.28_20.59.04] MVI_2989.MOV_snapshot_00.04_[2011.11.28_20.59.04]](http://neevswritingspace.files.wordpress.com/2011/11/mvi_2989-mov_snapshot_00-04_2011-11-28_20-59-04.jpg?w=150&h=112)
![MVI_2989.MOV_snapshot_00.11_[2011.11.28_21.02.15] MVI_2989.MOV_snapshot_00.11_[2011.11.28_21.02.15]](http://neevswritingspace.files.wordpress.com/2011/11/mvi_2989-mov_snapshot_00-11_2011-11-28_21-02-15.jpg?w=150&h=112)
![MVI_2995.MOV_snapshot_00.05_[2011.11.28_21.02.59] MVI_2995.MOV_snapshot_00.05_[2011.11.28_21.02.59]](http://neevswritingspace.files.wordpress.com/2011/11/mvi_2995-mov_snapshot_00-05_2011-11-28_21-02-59.jpg?w=150&h=112)
![MVI_3005.MOV_snapshot_00.07_[2011.11.28_21.09.46] MVI_3005.MOV_snapshot_00.07_[2011.11.28_21.09.46]](http://neevswritingspace.files.wordpress.com/2011/11/mvi_3005-mov_snapshot_00-07_2011-11-28_21-09-46.jpg?w=150&h=112)
![MVI_3042.MOV_snapshot_00.13_[2011.11.28_21.03.40] MVI_3042.MOV_snapshot_00.13_[2011.11.28_21.03.40]](http://neevswritingspace.files.wordpress.com/2011/11/mvi_3042-mov_snapshot_00-13_2011-11-28_21-03-40.jpg?w=150&h=112)
![MVI_3043.MOV_snapshot_00.02_[2011.11.28_21.04.27] MVI_3043.MOV_snapshot_00.02_[2011.11.28_21.04.27]](http://neevswritingspace.files.wordpress.com/2011/11/mvi_3043-mov_snapshot_00-02_2011-11-28_21-04-27.jpg?w=150&h=112)















