Islamophobia dan Obatnya (?)

Pantaskah hanya karena rasa khawatir yang amat besar, kita menghilangkan objektivitas terhadap sesuatu?

Dalam tulisan kali ini, kita akan mengulas sebuah jenis fobia, yaitu fobia terhadap Islam. KBBI mengartikan ‘fobia’ sebagai ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya. Oxford English Dictionary mengartikan Islamophobia sebagai kebencian atau ketakutan yang besar terhadap Islam; atau pelabelan buruk terhadap Muslim (Intense dislike or fear of Islam, especially as a political force; hostility or prejudice towards Muslims).

Istilah Islamophobia ini populer setelah kejadian 9/11 atau Black September yaitu penyerangan terhadap gedung kembar World Trade Center dan Pentagon di New York pada 11 September 2001. Peristiwa yang menelan korban ribuan orang ini diduga dilakukan oleh orang-orang berkebangsaan Arab. Pengakuan oleh Al Qaeda bahwa mereka bertanggung jawab atas aksi teror tersebut menambah kuat justifikasi buruk terhadap umat Islam. Selanjutnya Islam disandingkan dengan terorisme.

Pasca kejadian, terlepas dari berita berbasis teori konspirasi yang menyatakan ia pun terlibat di dalamnya, Presiden Amerika Serikat pada masa itu George W. Bush Jr. menyatakan Perang Global Melawan Terorisme (Global War on Terrorism). Aksi awalnya adalah penyerangan terhadap Afghanistan dengan dalih Preemptive Attack karena Afghanistan dianggap “melindungi” keberadaan Taliban dan Al Qaeda yang masih mungkin untuk mengancam keamanan Amerika. Propaganda anti-terorisme dan kontraterorisme menjadi isu dan jualan politik yang amat laku pada waktu itu. Survei yang dilakukan terhadap Bush menunjukkan rating penerimaan masyarakat terhadapnya naik hingga angka 90% (Gallup 2001).

Tragedi 9/11 tersebut memberikan dampak yang serius terhadap pandangan masyarakat Amerika atau bahkan dunia terhadap umat Islam. Sejenak setelah peristiwa itu, banyak sekali pelecehan ataupun hate crime (penyerangan karena kebencian) yang dilakukan terhadap Muslim dan orang-orang Asia selatan (NYC.gov 2004). Ada pula seorang Sikh bernama Balbir Singh Sodhi yang dibunuh karena disangka merupakan seorang muslim.

Sekitar 12 tahun kemudian, tepatnya 15 April 2013, Bom Boston meledak. Peristiwa ini terjadi di tribun penonton pertandingan lari Maraton. Lagi-lagi tersangkanya beragama Islam. Kejadian tersebut seakan membangkitkan kembali Islamophobia. Bahkan ekses kejadian tersebut menimpa teman penulis yang sedang berkunjung ke Amerika. Karena mengenakan jilbab, ia beberapa kali dipanggil sebagai ‘anak setan’ oleh orang-orang di jalan.

Akar Islamophobia, menurut hemat penulis, setidaknya ada dua hal. Pertama, media massa yang tidak proporsional dalam memberitakan dunia Islam. Yang kedua, sikap ekstrem sementara umat muslim yang nantinya akan menjadi pembenaran bagi media tersebut. Kritik terhadap media yang tidak imbang mungkin tidak perlu kita bahas panjang lebar dalam tulisan ini. Salah satu gambarannya adalah pemberitaan mengenai pengeboman di Boston yang disebut sebagai krisis kemanusiaan dan terorisme, tetapi di sisi lain, tragedi di Gaza hanya disebut sebagai konflik bersenjata saja.

 

Ilustrasi sikap media massa (Gambar: thoughtscratchings.com)

 

Yang kedua adalah sikap ekstrem sebagian umat Islam. Kita tentu sepakat bahwa ekstremisme bukanlah sebuah perilaku yang humanis. Maka pertanyaannya, apa benar Islam agama yang mengajarkan ekstremisme?

Ada ungkapan dari Muhammad Abduh, yang menyatakan Islam rendah karena perilaku orang islam (al Islam mahjubun bil muslimin). Memang, apa yang dituduhkan kepada (orang) Islam memang beberapa benar adanya, seperti ekstremisme yang banyak terjadi di timur tengah. Belum lagi sikap tidak toleran terhadap ajaran lain, bahkan terhadap pendapat ulama yang berbeda dengan keyakinannya. Padahal, salah satu Imam Mazhab besar Imam Malik pun berkata, “saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapat ku. Bila sesuai dengan Al Quran dan Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan Al Quran dan Sunnah, tinggalkanlah (Bar, h. 72 dalam Al Albani 1996, h. 56).

Sesungguhnya umat Islam diamanatkan untuk menjadi ummatan washatan (umat yang tengah-tengah). Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka menerangkan bahwa Quran Surat Al Baqarah ayat 143 menuntut umat Islam untuk menjadi umat yang berada di tengah-tengah. Makna dari berada di tengah adalah seimbang dalam memandang dunia dan akhirat. Islam merupakan titik tengah dari ajaran Yahudi yang terlalu duniawi dan Nasrani yang terlalu ukhrawi, menurutnya.

Menjadi umat yang tengah-tengah artinya juga menjadi umat yang moderat dalam bersikap. Korelasi dari keseimbangan dunia–akhirat dengan sikap moderat ada pada metode dalam berdakwah. Dakwah ilallah yang tidak moderat atau tidak memerhatikan konteks kemanusiaan akan membuat objek dakwah menolak apa yang ingin kita sampaikan.

Ketua Persatuan Ulama Internasional (The International Union of Muslim Scholars) Dr. Yusuf Al Qaradawi berpendapat bahwa tujuan lebih diutamakan ketimbang penampilan luar (Qaradawi 2008). Kita perlu menyelami pelbagai tujuan yang ada di dalam Syariah, mengetahui rahasia dan sebab-sebabnya, mengembalikan cabang kepada pokoknya, dan mengembalikan hal-hal yang parsial kepada yang universal. Karena mengetahui dari luar saja tidaklah cukup, demikian tulisnya.

Kuntowijoyo menyebut bahwa Islam bersifat universal dan kosmopolit (Kuntowijoyo 2008). Universal berarti nilai Islam itu lintas batas dan tak terpengaruh waktu. Kosmopolit artinya Islam dapat senantiasa hadir di berbagai bentuk kebudayaan tanpa perlu kehilangan identitasnya.

Salah satu perwujudan dari kemasan dakwah yang sesuai konteks sehingga dapat diterima oleh masyarakat adalah apa yang dilakukan oleh ulama Nusantara di masa perjuangan 1945. Nurcholis Madjid menyebut hubbul wathan minal iman (mencintai negara karena keimanan) merupakan landasan berpikir yang diajarkan para ulama di masa lalu, utamanya pada saat peperangan November 1945. Di masa itu, masyarakat Indonesia membutuhkan penyemangat dan ideologi dalam bergerak, dan di sanalah Islam masuk sebagai ideologi yang meliberasi.

Apabila kita tarik lagi lebih jauh, Islam juga berhasil diajarkan kepada masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, pada zaman Wali Songo melalui kesenian dan kebudayaan asli daerahnya. Contohnya melalui pentas wayang dan lagu-lagu (Ricklefs 2012). Cara yang sesuai dengan tradisi dan kebudayaan masyarakat ini penting untuk diperhatikan, karena Islam bukan hanya untuk bangsa Arab saja.

Berikut ini merupakan paragraf yang dikutip dari buku Fiqih Prioritas karya Yusuf Al Qaradawi:

Kekeliruan yang sering kali dilakukan oleh orang-orang yang menggeluti ilmu agama ini ialah bahwasanya mereka hanya mengambang di permukaan dan tidak turun menyelam ke dasarnya, karena mereka tidak memiliki keahlian dalam berenang dan menyelam ke dasarnya, untuk mengambil mutiara dan batu mulianya. Mereka hanya disibukkan dengan hal-hal yang ada di permukaan, sehingga tidak sempat mencari rahasia dan tujuan yang sebenarnya. Mereka dilalaikan oleh perkara-perkara cabang saja dan bukan perkara-perkara yang utama. Mereka menampilkan agama Allah, dan hukum-hukum syariatnya atas hamba-hamba Nya dalam bentuk yang bermacam-macam, dan tidak menampilkan dalam bentuknya yang universal.

Pendekatan yang dakwah Islam yang moderat terbukti oleh zaman mampu membuat penyebaran Islam berhasil di Indonesia. Ketika ajaran agama dikolaborasikan–bukannya ditabrakkan–dengan kebudayaan masyarakat, penerimaan nilai-nilai keagamaan oleh khalayak pun menjadi semakin efektif. Apabila kita merangkum pendapat-pendapat ahli yang telah disampaikan di atas, maka benang merahnya adalah bahwa Islam merupakan ajaran yang universal dan kosmopolit. Islam “didesain” untuk bisa hidup di mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, umat muslim masa kini juga harus membuka dialog dengan aliran-aliran filsafat dan sains.

Kesimpulannya, boleh jadi Islam sukses disebarkan melalui profesionalitas kerja, atau mungkin melalui penegakan hukum dan struktur politik, atau bahkan lewat pentas budaya. Tidak ada sebuah bentuk mutlak atas perwajahan dakwah Islam. Pilihlah model yang paling cocok dan diterima oleh umat yang sedang dihadapi. Dengan begitu, insya Allah, Islam akan lagi dipandang sebagai sebuah ajaran yang tegas dalam prinsipnya, tetapi tetap terbuka, dinamis, dan relevan dengan masa kini.

Wallahu a’lam bisshawab

Advertisements
Categories: Opinio | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: