Empat Belas Tahun Kulit Telur

Kulit telur dan tepung yang mengeras di suatu sudut jalan Kabupaten Bungo, mungkin, bekas surprise ulang tahun seseorang bisa saja tidak berarti apa-apa bagi banyak orang. Namun bagi seorang anak Pak Ahmad Muayad, keadaan tersebut mampu menghentikan langkah dan membuatnya putar balik dan berjongkok di depannya. Berkontemplasi.

Pikiranku bergerak mundur ke peristiwa sekitar 14 tahun lalu. Pertengahan tahun 2004, aku sedang berada di acara berkemah bersama tim Pramuka SD. Kami diutus untuk mewakili sekolah untuk berkegiatan Pramuka ke Sekolah Al Falaah Ciputat. Sewajarnya kegiatan perkemahan, kami diharapkan untuk memasak sendiri makanan kami (tentu saja kami bermufakat mie instanlah yang menjadi pilihan menu). Saat itu, aku ditugasi untuk membawa telur setengah kilogram. Tanpa kuharapkan, telur-telur yang dibawa dalam plastik kresek bening tersebut sebagian besar pecah karena kurang perhitungan ketika menaruhnya di dalam tas. Dengan rasa kecewa bercampur bersalah, kusampaikan hal tersebut kepada teman-teman se-tim. Dengan ringan mereka menjawab, “ga apa-apa, buang aja ke sana, Nif”, sambil menunjuk tempat nabun (membakar sampah) di bawah juntaian pepohonan bambu. Kubuka sebentar plastik tersebut. Bau amis menyeruak.

“Oke”, bleng, dengan hati lega kulemparkan plastik berisi telur-telur pecah tadi ke tumpukan sampah.

Senja hari pun tiba, para orang tua peserta dibolehkan untuk datang menjenguk anak-anaknya yang sedang asyik berpramuka. Bapakku datang ke tenda kami tepat ketika kami sedang memasak mie di tungku di luar tenda. Melihat mie yang sedang kuaduk tidak ada telurnya, ia bertanya ke mana telur yang kubeli kemarin di warung Bang Ocim. Tanpa rasa bersalah kuarahkan telunjuk ke pepohonan bambu sambil berkata, “di tempat sampah, Pah. Pada pecah telurnya.”

“Semuanya?” tanyanya.

“Kayaknya sih ada yang ngga pecah”, jawabku ketakutan.

Dengan gusar ia berjalan ke bawah rindang bambu, mengubek-ubek tumpukan sampah, dan akhirnya mengangkat sebuah plastik bening lalu membukanya. Ia kemudian mengambil beberapa telur yang masih utuh dan melemparkan kembali sisanya ke tumpukan. Kulihat ia kemudian mencuci telur-telur tersebut di kran air terdekat.

Kemudian, dengan mata memicing, ia berjalan ke arahku dengan membawa dua butir telur.

“Nih, dimasak telurnya! Jangan menyia-nyiakan makanan!” katanya setengah berteriak. Sedikit side story, bapakku ini kalau bicara dalam bahasa percakapan pun, seringkali menggunakan bahasa formal. I guess now I know where an alike behavior comes from.

Kembali ke cerita, dua butir telur itu, sodara-sodara, pada saat itu harganya hanya sekitar 1.200 atau 1.400 rupiah! Tetapi ia tidak biarkan ‘hal receh’ itu membuat anaknya meremehkan suatu perbuatan. Kebaikan atau ketidakbaikan sekecil apapun kalau ditumpuk, suatu saat, akan menjadi hal yang signifikan.

Aku tidak tahu pasti mana yang menjadi faktor paling substansial dari kegeramannya tersebut, apakah an sich prinsipnya untuk tidak menyia-nyiakan makanan, ataukah memang karena kondisi ekonomi yang, pada ujungnya bermuara kepada hal yang sama, membuatnya tidak tega melihat makanan tersia-siakan. But one way or another, nyaris setiap hal yang ia lakukan didasari dengan prinsip yang diyakininya.

Dan ia tak segan-segan mengorek tempat sampah untuk menegaskan kepada anaknya bahwa hidup itu harus didasari prinsip. Ia adalah pria yang berjalan ‘dengan kepalanya’.

I am still far faraway from him, both figuratively and literally.

However, terima kasih kulit telur, you gave me a reminder about where to set my foot on.

Semoga mendapat ampunan dan keselamatan di sana, Pah.

– – –

Lorong Kehakiman, Bungo, Jambi, 28 April 2018

Dari pengagum yang sedang berpetualang sambil berusaha menjadi penerusmu.

Ini dia kulit telurnya!

Advertisements
Categories: Family | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: