Posts Tagged With: KMFH

Mahasiswa Mengajar, Bangun Indonesia

Bagian ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi agaknya sering terlupakan oleh mahasiswa masa kini. Pengabdian masyarakat yang menjadi output paling konkret dari pendidikan malah menjadi bagian yang terkesan paling dikesampingkan dari perjalanan berkuliah seorang mahasiswa. Padahal tanpa pengabdian masyarakat, pendidikan akan menjadi layaknya singa ompong. Pendidikan akan menjadi teori belaka yang kosong perwujudan.

Salah satu bentuk pengabdian masyarakat yang dapat dilakukan mahasiswa adalah mengajar. Konteks mengajar yang dimaksud dapat berupa mengajar les, menjadi tutor di lembaga bimbingan belajar, atau menjadi sukarelawan mengajar di lingkungan terdekatnya. Namun dalam tulisan ini, saya memfokuskan bahasan kepada pengajaran oleh mahasiswa yang sifatnya suka rela di tempat-tempat yang minim akses pendidikan.

Mengajar menjadi pilihan yang baik bagi mahasiswa karena akses terhadapnya relatif mudah. Banyak organisasi kemahasiswaan maupun organisasi sosial lainnya yang menyediakan sarana untuk mengajar dan membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin berperan serius untuk ikut. Tinggal mahasiswanya yang aktif mencari untuk selanjutnya berpartisipasi.

Pisau Bermata Dua

Diperkirakan, ada sekira 4,8 juta mahasiswa di Indonesia pada 2011. Angka ini dapat menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, jumlah tersebut mumpuni untuk menjadi pengajar di berbagai pelosok negeri ini. Andaikata lima persen saja dari jumlah tersebut berperan dalam proses pengajaran, jumlah warga negara yang tercerdaskan tentu akan sangat banyak.

Di sisi lain, angka tersebut hanya merupakan 18,4 persen dari jumlah rakyat Indonesia berusia 19-24 tahun yang berkesempatan untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Artinya, di pundak sejumlah kecil orang (baca: mahasiswa) itulah beban memperbaiki nasib rakyat diletakkan.

TPA Desbin

Pengajaran oleh mahasiswa via lembaga kemahasiswaan relatif akan kontinu, karena setiap tahun akan ada mahasiswa baru yang masuk ke kampus-kampus di negeri ini. Oleh karena itu, akan selalu ada energi baru untuk menggerakkan proses pengajaran oleh mahasiswa.

Objek yang umum dijadikan target mengajar mahasiswa adalah anak-anak. Kita sama-sama meyakini bahwa generasi muda di zaman sekarang adalah penggerak di masa yang akan datang. Pendidikan di usia dini menjadikan mental anak-anak tersebut terbentuk sejak awal, sehingga mereka akan siap dibentuk menjadi generasi penerus perjuangan bangsa.

Mutualisme dari Mengajar

Dari pengalaman pribadi penulis mengajar di salah satu pelosok Yogyakarta selama beberapa bulan, ditambah dengan hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa pengajar di area lain provinsi yang sama, didapatkan kesimpulan bahwa anak-anak senang bila diajari oleh mahasiswa karena metode yang digunakan lebih kreatif dan variatif jika dibandingkan dengan pola pengajaran formal di sekolah mereka masing-masing. Oleh karena itu, proses belajar mengajar yang menyenangkan anak-anak tersebut dapat menjadi alternatif penggunaan waktu yang produktif jika dibandingkan dengan menonton televisi, yang biasa dilakukan anak-anak masa kini pada waktu-waktu senggangnya.

Dengan mengajar pula mahasiswa dapat memberikan akses pendidikan kepada masyarakat kelas bawah, yang sebelumnya mungkin amat sulit mereka dapatkan. Mengajar di pelosok juga dapat menjadi pengalaman yang membahagiakan sekaligus mendewasakan. Realitas sosial akan lebih dulu dirasakan oleh mahasiswa yang “turun langsung” ke masyarakat dibandingkan yang hanya belajar lewat diktum-diktum kuliah. Saya rasa wawasan mengenai realitas sosial ini penting dimiliki oleh mahasiswa untuk menghadapi kehidupan pascakampus.

Hanif Ibrahim Mumtaz
Mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada (UGM)
Pengajar di Desa Binaan Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM – Jojoran Kulon – Bantul

Alhamdulillah, dimuat di:
http://kampus.okezone.com/read/2013/02/13/95/760972/mahasiswa-mengajar-bangun-indonesia

Advertisements
Categories: kehidupan bermahasiswa | Tags: , , , , , , , , , | Leave a comment

Aksi KMFH di Desa Binaan

Akhirnya sampai juga kami pada tanggal yang ditunggu-tunggu, 5 November 2011. Di sore hari Jumat yang cerah, kami berkumpul di sekitar Mushola Baitul Hakim, markas kami para Pengurus KMFH, untuk berangkat bersama ke desa binaan KMFH; Desa Jojoran Kulon, Bantul. Rencananya, kami akan melaksanakan Shalat Idul Adha dan memotong hewan kurban bersama dengan warga desa tersebut.

logo kmfh ugm

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Hadits ini dishahihkan oleh Nashiruddin al Albani didalam “ash Shahihah” nya.

Terinspirasi oleh hadits diatas, kami sangat antusias untuk menuju ke sana, karena bagi sebagian dari kami, acara ini merupakan pertama kalinya “turun langsung ke masyarakat”. Mata-mata berbinar terlihat di sekitar. Terutama para angkatan 2011.

Transportasi utama yang akan membawa kami ke sana adalah sebuah Bis Kota yang disewa. Namun, karena kendala kapasitas, maka beberapa dari kami memilih untuk menggunakan motor untuk sampai di sana. Setelah perjalanan selama sekitar 1 jam, kami sampai di Desa Jojoran Kulon, sebuah desa berpenduduk ramah yang berada di sebelah barat Kota Yogyakarta. Udara petang yang hangat seolah menyambut kedatangan kami. Selanjutnya, kami dibimbing untuk menuju Masjid Al Himmah, satu-satunya masjid yang ada di desa itu.

Dinding semen yang belum rampung diplester dan dicat menjadi hal pertama yang dikesankan masjid tersebut. Kami menduga-duga, mungkin disebabkan keterbatasan dana yang dimiliki desa tersebut. Langit-langit masjid yang tidak berplafon dan digunakan laba-laba untuk bersarang menambah kuat rasa prihatin kami terhadap desa itu. Namun, disamping semua hal menyedihkan tersebut, kami bersyukur di desa itu masih ada masjid.

Waktu Maghrib datang. Kami pun bersiap untuk shalat berjamaah bersama warga desa. Uniknya, untuk berwudhu, kami harus menimba air terlebih dahulu. Ternyata Desa Jojoran Kulon ini merupakan salah satu desa yang kering dan sulit untuk mendapatkan air. Hal itu dapat dilihat dari kedalaman sumur yang “hanya tuhan yang tahu”. Permukaan air sumur tidak dapat dilihat karena berada jauh di kedalaman.

Setelah Shalat Maghrib dan makan malam, kami bergantian mengumandangkan takbir di Masjid Al Himmah sambil menunggu datangnya waktu Azan Isya. Setelah Azan Isya dikumandangkan, kami pun shalat. Selepas Shalat isya, Bapak Takmir Masjid menyampaikan sambutan kepada kami, dalam Bahasa Jawa.

Beberapa dari kami mengerti, tetapi sebagian lagi tidak. Maklum, Ia menggunakan Bahasa Jawa Kromo Hinggil alias Bahasa Jawa yang sangat sopan. Bahkan beberapa dari kami yang orang jawa pun kadang mengernyitkan mata tanda tak mengerti. Ia acapkali menyebut kami ‘Mahasiswa-mahasiswi UGM Ngayogyakarto’. Tak sekalipun ia memanggil cah UGM atau anak UGM. Mungkin inilah bentuk penghormatan mereka bagi kami, sekaligus menunjukkan kesopanan njawaning desa tersebut.

Ketika Bapak Takmir Masjid selesai menyampaikan sambutannya, Rahmat Hisyam Pamady mewakili kami dalam memperkenalkan profil KMFH dan tujuan kami berada di Desa Jojoran Kulon, tentunya dalam Bahasa Jawa.

“Kawulo perwakilan saking mahasiswa muslim Fakultas Hukum UGM ngaturaken agungin pangapunten, kalian ngaturaken panuwun sewu, kawulo kalian rencang-rencang badhe ngawontenaken acara semarak Idul Adha dateng dusun Jojoran Kulon sameniko”, demikian ujarnya sambil tersenyum dan mengangguk-angguk, meniru gesture Pak Takmir ketika menyempaikan sambutannya tadi.

Di belakang layar, Ia memberitahukan arti kata-katanya kepada kami. Intinya Ia menyampaikan permintaan maaf jika kedatangan kami akan merepotkan, serta meminta izin untuk mengadakan acara Semarak Idul Adha dan pemotongan hewan Qurban di Desa Jojoran Kulon. Beberapa sambutan lain juga disampaikan oleh Ketua Rangkaian Acara Semarak Idul Adha dan Muslim Law Fair 2011, Ginanjar Julian Azizi, serta oleh Kepala Desa Jojoran kulon. Lalu dilanjutkan dengan ceramah oleh Ketua KMFH Ahmad Fikri Mubarok.

Ceramah kali ini sedikit berbeda dengan ceramah pada umumnya. Bukan topik atau cara penyampaiannya yang berbeda, melainkan kondisi ruangan masjid saat itu. Tanpa kami menduganya, satu demi satu laron berdatangan. Tak disangka, akhirnya ribuan laron berputar-putar di sekitar kami malam itu, seolah-olah mengucapkan selamat datang.

“Pfueh pfueh!!” salah satu teman kami secara refleks tiba-tiba meludah.

Ternyata seekor laron memasuki mulutnya yang sedang menganga. Kami pun tertawa melihat tingkahnya.

Perhatikan laron di sekitar…

Acara selanjutnya adalah takbiran serta pawai obor bersama anak-anak kecil warga desa tersebut. Belasan anak kami ajak untuk ikut berkeliling desa mengumandangkan takbir dan tahlil. Semangat mereka terlihat begitu menggelora. Celoteh dan tawa menghiasi perjalanan kami bersama belasan anak-anak desa di malam itu.

Semangat yang meletup-letup ditunjukkan oleh Ryan Gusti, pemandu jalannya acara pawai obor ini. “Ayo, semua ikuti saya. Harus kompak. Allaahuakbar!!!” begitu semangat terdengar suara dengan logat Sumatranya. Jalan tanah yang lengket dan dinginnya malam tidak begitu kami rasakan. Mungkin karena kehangatan acara malam itu. Mata dari beberapa kami terlihat begitu berbinar dan begitu bahagia, mungkin baru kali ini merasakan arti kepedulian itu secara langsung.

Perjalanan malam itu pun berakhir di halaman masjid. Kami berharap agar tradisi baik di malam takbiran ini terus terjaga di desa ini.

***

Esoknya, kami bangun tidur sekitar setengah jam sebelum waktu Subuh. Sehingga beberapa menit setelah kami melaksanakan Qiyamullail, Azan Subuh langsung dikumandangkan. Sehabis shalat subuh, kami harus kembali menghadapi realita keterbatasan air di masjid tersebut. Akhirnya, sebagian dari kami memilih untuk menimba air untuk mandi. Beberapa lainnya memutuskan untuk mendatangi rumah warga dan menumpang mandi disana.

“Sekalian silaturahmi”, begitu ujar mereka.

Saat Sholat Idul Adha dilaksanakan, para jamaah yang berwajah cerah mengisi penuh masjid yang sederhana itu. Ketika khutbah ied disampaikan, kami kembali mengernyitkan mata. Maklum, banyak dari kami yang masih beradaptasi dengan Bahasa Jawa. Sesudah khutbah, kami saling menanyakan, “Ngerti ora kowe?” kebanaykan menggelengkan kepala tanda tak mengerti.

Tiba saatnya pemotongan hewan qurban. Selagi para warga dan beberapa anggota KMFH laki-laki memotong hewan qurban dan mengolahnya, anak-anak kami ajak untuk bermain di pelataran Masjid Al Himmah. Memang awalnya sulit mengajak mereka untuk bermain bersama. Mungkin karena masih asingnya kami di mata mereka. Namun, setelah upaya yang cukup lama dan diiming-imingi susu botol, mereka akhirnya mau mengikuti kami bermain uji konsentrasi dan kekompakan. Gelak tawa memenuhi suasana di pagi hari itu. Kami berpikir, anak-anak kecil ini harus sering mendapatkan kegiatan postif sekaligus menyenangkan seperti ini. Jika tidak, mungkin hanya televisi dan hape yang akan memenuhi keseharian anak-anak ini.

Setelah 9 ekor kambing qurban rampung diolah dan dibagikan, kami bersiap untuk meninggalkan Desa Jojoran Kulon. Kesadaran akan keberadaan saudara-saudara kita yang nasibnya kurang beruntung begitu melekat di hati kami. Pesan terakhir Bapak Takmir Masjid sebelum kami pulang adalah, jadilah mahasiswa yang berguna di dalam dan di luar kampus. Kami diharapkannya untuk menjadi orang yang berpengaruh agar bisa membangun desa ini, serta desa-desa lainnya di seluruh negeri ini.

Rintik gerimis di siang hari itu menemani kepulangan kami dari Desa Binaan Jojoran Kulon. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan telah kami lalui. Semoga harapan Bapak Takmir Masjid bisa kami wujudkan.

Semoga…

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

{QS. Ali Imran: 110}

Photo Gallery

Categories: kehidupan bermahasiswa | Tags: , , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.