Istanbul Journal [Part 1 – Funding]

Activity Feeds Facebook di bagian kanan layar laptop ku bergerak ke bawah. Tertera di sana bahwa seorang teman menge-like sebuah fanpage bertajuk “DEYS 2013 Istanbul”. Begitu penasaran dengan kata “Istanbul”, aku pun memutuskan untuk masuk dan melihat isi dari fanpage tersebut. Ternyata DEYS 2013 adalah sebuah student conference. Acara tersebut akan dihelat di Kozyatagi Kultur Merkezi (bahkan dulu aku tidak yakin bagaimana cara mengucapkannya) Istanbul. Konferensi pelajar yang diadakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Istanbul ini memiliki tema utama Democratic and Economics.

Merasa tertantang dan punya kesesuaian dengan minat, aku pun langsung mengajak seorang teman di asrama untuk mulai membuat garis besar dari makalah yang akan kami kirimkan ke panitia konferensi di Turki tersebut. Rajif, rekan setim ku, adalah seorang mahasiswa fisipol UGM yang cukup intelek. Ia pada saat itu menjabat sebagai Pimpinan Bidang Keilmuan Dewan Mahasiswa Fisipol UGM. Pengetahuannya di bidang politik dan governance terbilang cukup mendalam. Ia mengusulkan tema yang diusung di paper kami adalah mengenai ‘Bonus Demografi dan pemanfaatannya lewat pendidikan’.

DEYS 2013 memiliki 2 tahapan seleksi yang akan menentukan status kepesertaan saat menghadiri acara, yaitu seleksi abstrak dan dilanjutkan dengan seleksi paper. Peserta yang lolos abstrak akan mendapatkan ‘diskon akomodasi’ saat berada di Turki, sedangkan peserta yang lolos paper akan diundang sebagai invited participant dan ditanggung sepenuhnya akomodasi selama di Turki. Tanpa terlalu peduli tahapan-tahapan itu, kami mulai menulis abstrak. Rajif lebih banyak berperan dalam penulisan abstrak dari paper ini.

Singkat kata, abstrak pun dikirimkan ke alamat e-mail yang ditunjuk oleh panitia. Terlambat beberapa jam memang, karena kami ketiduran saat mengerjakannya. Namun, ajaib, abstrak kami diterima walaupun terlambat dikirimkan. Tantangan selanjutnya adalah membuat paper yang merupakan pengembangan dari abstrak tersebut. Judulnya keren sekali, “Managing Indonesia by Human Resources Potential”.

Bagiku, tantangan ini betul-betul menantang, karena pada masa pengerjaannya, ada acara latihan kepemimpinan wajib dari asrama yang harus diikuti selama seminggu di luar kota. Sepulangnya dari sana pun, Rajif belum bisa pulang ke asrama. Aku harus mengerjakannya sendiri. Bermodalkan akses ke jurnal online yang disewa UGM, aku mulai mengorek materi berbahasa Inggris mengenai human resources, sesuatu yang belum aku mengerti sepenuhnya. Akhirnya jadi juga.

Keajaiban kedua muncul, paper kami kembali dinyatakan lolos. Padahal, aku tidak tahu apa-apa tentang Human Resource Management dalam skala nasional. However, kami diundang sebagai invited participant dengan titel “terbaik kedua” di bidang An Advanced Democracy dalam konferensi tersebut.

***

Tak disangka, paper dua orang teman asramaku juga lolos. Dua orang tersebut berasal dari tim yang berbeda denganku dan Rajif. Dua orang yang kelak akan menjadi teman perjalanan menapaki negeri orang. Mereka adalah Ruli dan Harir.

Ruli adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran sedangkan Harir berkuliah di Fakultas Teknik. Keduanya sama-sama terdaftar sebagai mahasiswa UGM. Pasca berkoordinasi, kami bertemu bertiga di Bubur Ayam Jakarta dekat asrama. Di sana kami merencanakan langkah-langkah menghadapi tantangan besar berikutnya “mencari dana”. Detik itu, resmi sudah kami berempat menjadi tim yang akan melakukan apapun (yang halal) untuk bisa mendanai perjalanan kami ke Turki.

Diterakanlah beberapa baris nama-nama tokoh, kenalan, atau institusi yang mungkin berkenan untuk menjadi sponsor dari perjalanan kami ke konferensi di Turki itu. Dari sekian banyak pihak yang kami “coba”, ada beberapa yang menarik untuk diceritakan.

***

Menuju Taruna Nusantara

Target operasi pertama kami adalah Ketua IKASTARA. Untuk bisa menghampiri ketua IKASTARA (Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara) yang kabarnya potensial untuk dijadikan sponsor atau donatur, kami bertiga (aku, Harir, dan Ruli) harus mencari jadwal yang tepat. Maklum, sang ketua ikatan alumni tersebut adalah orang sibuk.

Tak disangka, hanya sekitar dua pekan setelah kami memulai pencarian dana, ada berita bahwa si ketua ikatan alumni akan mengunjungi Magelang. Merasa jarak antara Jogja dan Magelang cukup dekat, kami putuskan untuk datang ke SMA Taruna Nusantara tanpa bilang-bilang.
Buatku yang pertama kali menjejakkan kaki di Magelang dan belum pernah melihat SMA TN, perjalanan ini ‘ngeri-ngeri sedap’. Kabarnya, SMA TN adalah SMA yang amat disiplin dalam menegakkan tertib dan protokol. Aku khawatir keberadaanku di sana sebagai breach (penyusup) akan ketahuan dan ditindak secara militeristik.

Ternyata, keberuntungan masih menyertaiku (dan Harir). Kami berdua yang bukan siapa-siapa di sana bisa memasuki kompleks SMA TN dengan lancar. Bahkan hampir semua siswa yang berpapasan dengan kami, berhenti dan berdiri tegak lalu menyapa hormat.

“Permisi Bang”, ujar mereka.

Mantap!

***

IMG_20130927_222504

Tidur di pelataran Musholla yang dingin, sambil waswas khawatir diusir.

Sporadisme dan kenekatan adalah pisau bermata dua. Kita tak pernah tahu akan seperti apa hasil dari kenekatan tersebut. Ada dua hal yang membuat perjalanan kami mencari dana ke Magelang terasa berat. Pertama, karena bukan merupakan warga atau alumni SMA TN, aku dan Harir tidak boleh menginap di kompleks TN. Akhirnya setelah beberapa lama mencari kami berdua bisa menemukan teras musholla kosong yang bisa dijadikan tempat tidur.

Kedua, sang Ketua Ikatan Alumni yang diharap-harap akan memberikan sumbangsih keuangan secara signifikan, karena merasa tidak ada appointment dengan kami, kurang serius menanggapi proposal, apalagi menyumbang uang. Sebuah kalimat yang kuingat keluar darinya hanyalah,

“Kok kata ‘Indonesia’ di proposal ini dicetak miring (italic –pen)?”

Sebuah kritik yang terlalu teknis dan protokoler, menurutku.

Akhirnya, kami pulang dari Magelang tanpa membawa uang darinya. Tapi tentu saja, kami tidak pulang dengan tangan kosong. Kami pulang dengan keberanian yang sudah bereskalasi.

***

Mendekati Pengurus KAGAMA (Keluarga Alumni Gadjah Mada)

Salah satu sumber dana yang biasa dijadikan andalan para mahasiswa yang berniat untuk ke luar negeri adalah sumbangan dari KAGAMA. Mindset tersebut juga kami amini dan kami jalani usahanya.

Untuk memperbesar kemungkinan proposal kami diterima oleh KAGAMA, kami mencari link pengurus di dalam KAGAMA. Usut punya usut, akhirnya ditemukan sebuah nama. Sebut saja Bu Ken. Ia adalah salah seorang pengurus bidang di KAGAMA. Kita harus bisa mendekati beliau agar proposal kami, paling tidak, dibaca. Di sinilah muncul dinamika.

Ruli berpendapat bahwa kita perlu cari hal apa yang disenangi oleh Bu Ken, agar nanti ketika kita bicara dengannya, mudah untuk merebut perhatiannya dengan membincangkan hal yang ia suka. Harir ditugasi untuk melakukan pengumpulan informasi rahasia ini. Bak detektif, Harir berhasil menemukan bahwa Bu Ken adalah seorang penyuka bunga. Apabila kita bersepakat dengan cara Ruli di atas, maka ketika nanti bertemu dengan Bu Ken, kita harus banyak bicara mengenai bunga.

Tidak masuk akal sekali menurutku.

Tak terima dengan metode tersebut, aku protes. Kusampaikan kepada mereka bahwa tidak sewajarnya kita mengada-adakan pembicaraan yang berkesan (maaf) sekadar ingin membuat seseorang senang. Relasi antar manusia harusnya adalah setara. Bicaralah yang sopan, hangat, dan ramah, tetapi tak perlu dibuat-buat. Maaf kawan-kawanku, pada titik ini aku tidak bersepakat untuk memosisikan diri kita sebagai subordinat dari seorang pengurus KAGAMA. 🙂

 

Mengetuk Rumah Pak Rektor

Upaya pencarian dana juga kami arahkan ke institusi intra kampus. Ke Direktorat Mahasiswa misalnya. Setelah sekitar sebulan tidak ada kepastian jawaban mengenai pendanaan perjalanan ini, kami putuskan untuk mencari strategi lain (yang lebih radikal). Kami akan mendatangi rumah Pak Rektor. Langsung!

Singkat kata, kami berempat sudah berdiri di depan rumah Pak Rektor Pratikno. Dengan penuh rasa waswas dan bimbang, kami saling menunjuk untuk menentukan siapa yang akan mengetuk pintu duluan. Sekitar 5 menit kami berdebat. Kebanyakan berpendapat Rajif lah yang harus mengetuk, karena ia mahasiswa Fisipol dan pernah menjadi mahasiswa dari Pak Pratikno di jurusannya.

Aneh. Kesempatan yang di depan mata ini terasa berat sekali untuk didekati. Seolah jarak tangan dengan gagang pintu gerbang atau bel di sampingnya amat jauh. Di saat-saat genting nan tegang seperti itu, perutku malah mulas. Akhirnya, dengan sangat antiklimaks, aku undur diri ke masjid terdekat untuk buang air. Ajaibnya, ketiga rekanku malah mengikutiku ke masjid tersebut. Mungkin mereka menyebutnya solidaritas. -_-

Ba’da menyelesaikan ‘urusan’ di toilet masjid, kami kembali meyakin-yakinkan diri untuk ke rumah Pak Rektor dan mengetuk pintunya sekali lagi. Sayang sekali, kali ini tidak ada jawaban dari dalam rumah yang pintunya diketuk. Dengan agak layu, kami meninggalkan rumah beliau dan kembali ke kediaman masing-masing. Sekali lagi, masih dengan pelajaran yang sama, biasakan membuat janji terlebih dahulu sebelum mendatangi tempat seseorang. Apalagi orang sibuk.

 

Titik Balik Pencarian Dana

Setelah beberapa upaya yang belum memberikan hasil konkret berbentuk uang, kami pun mendapat angin segar dari beberapa sumber yang ditargetkan untuk menjadi sponsor atau donatur. Berita paling manis datang dari Yayasan Sime Darby Indonesia. Yayasan ini mau mendanai keberangkatan kami sebesar Rp 10 juta. Memang ada latar belakangnya mengapa yayasan CSR kapitalis sawit multi-negara Sime Darby ini mau mendanai, yaitu karena Mukharrir (Harir) merupakan penerima beasiswa di dalam yayasan tersebut. Tetapi tak masalah. Sumbangan tersebut memberi sumbangan signifikan terhadap kebutuhan keuangan kami yang berjumlah total sekitar Rp 45 juta.

Memang sumbangan dari Sime Darby cukup besar angkanya, tetapi langkah pencarian kami belum selesai. Kami terus mengusahakan untuk bisa mendapatkan sokongan dana dari institusi pemerintahan. Kami mencoba beberapa pihak yang memiliki keterkaitan dengan kami, antara lain Pemda Jawa Tengah, Pemkab Purworejo, Pemda Aceh, dan Pemda Banten. Dari sekian target tersebut, yang membuahkan hasil adalah Purworejo dan Jawa Tengah. Pemda Jawa Tengah bahkan memberikan dana lebih banyak dari yang kami minta (walau akhirnya ditarik kembali kelebihannya, karena kami minta tidak terlalu banyak).

Hampir semua sumber dana didapatkan dengan mudah via transfer ke rekening yang telah kami tetapkan. Namun lain halnya dengan Pemda Provinsi Jawa Tengah. Orang yang mengontak kami dari Pemda mengharuskan kami untuk mendatangi langsung Kantor Gubernur (Gubernuran) Jawa Tengah dan mengambil uangnya di sana. Masalahnya adalah, Gubernuran terdapat di Semarang, bagian utara pulau Jawa. Sedangkan Yogyakarta terdapat di sisi selatan pulau yang sama.

Mau tak mau kami harus menempuh jarak tersebut untuk mengambil uang. Kami sempat mempertimbangkan untuk naik bus. Namun, kami tidak yakin lalu lintas akan lancar karena hari itu adalah hari kerja. Akhirnya diputuskan perjalanan akan dilakukan dengan menggunakan motor, yang ternyata memakan waktu 5 jam. Permasalahan berikutnya timbul, siapa yang akan mengambil uangnya sedangkan kami bertiga sama-sama ada jadwal kuliah.

Ruli sebagai mahasiswa kedokteran tidak mungkin meninggalkan praktikum skills lab-nya. Harir juga mengaku jumlah bolosnya sudah mendekati ambang batas, hal yang sebenarnya juga terjadi padaku. Tetapi sebagai orang yang (pada saat itu) least concerned terhadap masuk kelas akhirnya aku yang mengajukan diri. Aku pergi bermotor ke Semarang bersama teman sekamar di asrama, Puji Utomo.

IMG_20131021_165738

Perjalanan 5 jam yang bikin lelah, sambil dihibur bentang alam yang indah.

Setelah melalui perjalanan 5 jam yang bikin pantat panas dan hampir jatuh dari motor karena mengantuk, melewati gunung dan lembah, akhirnya kami sampai di Gubernuran sekitar jam setengah 3 sore. Setelah sedikit berbincang, bapak Bendahara Pemda Jateng langsung memberikan uang tersebut kepada kami. Awalnya ia memberikan uang sejumlah 5 juta rupiah. Tetapi ketika ia meneliti lagi proposal kami, yang di sana tertulis permohonan sebesar 4 juta, ia ambil 20 lembar uang pecahan 50 ribu dari amplop.

“Semoga sukses di sana”, ujarnya sambil tersenyum.

Alhamdulillah, bertambah lagi dana yang bisa kami pakai untuk menuju ke Turki. Aku dan Puji pun pulang kembali ke Jogja. Sesampainya di Jogja, hal yang kulakukan adalah menghampiri Mas Fachry untuk meminjam jas tuxedo mahalnya (yang ia pesankan untuk dijaga baik-baik) serta berpamitan kepada adik-adik panitia Moslem Law Fair dan para anggota BKK KMFH yang baru selesai rapat dengan dipimpin oleh Sitkha–sesama kepala BKK. Selanjutnya istirahat untuk mempersiapkan keberangkatanku hari esok dari bandara Adi Sutjipto Yogyakarta.
( bersambung )

Advertisements
Categories: impian, kehidupan bermahasiswa | Tags: , , , , , , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Istanbul Journal [Part 1 – Funding]

  1. katamiqhnur.com

    kren nih bro..
    visit back ya, dijamin nggak bakalan rugi deh..
    katamiqhnur.com

  2. endoh

    subhanallah Oim..

  3. oiiiiim, hebat banget siiih ..keren pengalamannya. Tulisannya juga terstruktur, mengalir dan enak dibaca…

  4. Geura anggeuskeun oim.. ini baru appetizer..

  5. Reno

    Okelah kalo begitu…😄😄😄
    cool.……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: