Ini cerita NF-ku. Bagaimana ceritamu?

Mari maju bersama Allah menuju Masa Depan Cemerlang

“Hmm… Slogan yang menarik”, pikirku waktu itu; semester 2-ku di kelas XI SMAN 34 Jakarta. Berbekal ketidaktahuan dan kecintaanku kepada iklan (nah, ini sesuatu banget. Aku jauh lebih suka menikmati iklan dalam bentuk brosur, flyer, TVC dsb. dibandingkan membaca review, sekalipun yang paling objektif dan akurat. Huahahahaha), aku menguatkan hati untuk mengikuti bimbel Nurul Fikri ketika awal kelas XII nanti. Bismillah.

Kita melompat ke topik lain dulu ya…
*wouush*

Sebagai informasi, sejarah kelam persekolahanku (?) di bidang eksakta entah mengapa selalu berulang. Hal ini dimulai pada kelas 4 SD, dimana aku mulai menyadari ada yang salah dengan logika matematika-ku. Aku dapat nilai 50 di EHB semester 1. Aku menjawab 10 soal dengan tepat. Sayangnya soalnya ada 20. Azzzzt~

Di kelas 5, kami sekelas diwajibkan untuk mengikuti les matematika bersama Bu Yayah (wali kelas 5B waktu itu). Ada sebuah challenge yang beliau ajukan; siapa yang dapat meyelesaikan 5 soal darinya, boleh pulang. Dan apa yang terjadi sodara-sodara, aku hampir selalu pulang terakhir. -,- Hal ini terus berlangsung selama hampir 1 tahun. Namun, di akhir masa kelas 5 aku menyadari bahwa aku memang kurang bisa mengatasi persoalan eksak, maka aku harus berusaha lebih dari yang lain.

Waktu-demi-waktu pun berlalu, dan aku mampu menjadi yang tercepat keluar dari kelas les-nya Bu Yayah. Hore… tepuk tangan!

Kali ini kita bicara proses pembelajaranku di kelas 7 MTsN 3. Di sinilah aku mulai mengenal pelajaran yang namanya Biologi. Tau ‘kan, pelajaran biologi awal SMP adalah menghafalkan -logi -logi itu.
bla bla logi adalah ilmu yang mempelajari tentang bla bla… planologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perencanaan tata ruang kota (mana ada planologi di kelas 7).

Lagi-lagi, hasilnya adalah kekacauan nilai biologi. Ditambah lagi dengan fisika. Bagaimana agar lampu A dapat menyala? Tunjukkan aliran arus listriknya *dalam hati, ya ampun pak, mending ajarin kita agar mengeringkan tangan sebelum memencet saklar. Biar ngga kesetrum*. Intinya, tahun-tahun awal bersekolahku seringkali tidak dapat disebut “terpuji”. Namun, aku bisa menjadi ranking 1 di akhir kelas 9, dan nilai UN-ku terbaik kedua se-sekolah (how could? well, HE is ALWAYS there to give the best for your effort). Alhamdulillah.

Ketika aku dapat memasuki SMA 34 dengan (alhamdulillah) jujur dan bersih, aku merasa sangat berbahagia bisa menjadi bagian dari sekolah yang katanya bagus ini (padahal milih nih sekolah gara2 waktu disurvei masjidnya terasa adem dan ada air mancurnya, serius ‘cuma’ itu alasannya). *oh baitul ilmi :’-)*

Bisa ditebak kan, aku mau ngomong apa… Yah, ketika masuk SMA, nilai-nilai akademis-ku kembali kacau. Aku mengalami cultural shock yang sangat besar. Di sini kita dituntut untuk mengerjakan banyak (eh, salah. Buuaanyaak) tugas dalam waktu yang sempit. Serius, lebih banyak dari pada semseter satu di FH UGM. Ehm… ranking 35 dan nilai kimia semester 1 sebesar 39 pastinya akan cukup menjelaskan kondisi saat itu. Dari seluruh ulangan harian selama setahun belajar kimia di 34, aku berhasil tidak remedial SATU KALI, yaitu di bab Elektrolit. Sisanya yang sekian belas bab plus UTS-UAS; selalu remedial. Nilai-ku tidak pernah menyentuh batas minimal 75.

Namun, di akhir masa sekolahku di 34, aku bisa lulus UN dengan jujur. Alhamdulillah.

kok aku selalu diizinkan untuk mengejar ketertinggalan di akhir waktu ya? wallahu a’lam.

kembali ke per-NF-an lagi
*wouush*

Pada awal tahun 2010, sedang hot-hotnya berita tentang kemana studi tur 34 akan dilangsungkan. Yang pada akhirnya diputuskan ke Jogja (dilaksanakan di Juni 2010). Mayoritas teman-teman sangat antusias untuk mengikuti acara ini. Bagaimana denganku? Apakah pengen untuk ikut? Tentu saja, PENGEN BANGET.

Mamah pun menyarankanku untuk ikut. Tapi, entah dapet bisikan dari mana, aku memutuskan untuk bilang ke mamah, “ga usah ikut deh mah. Lumayan kan 700rb bisa untuk nambahin bayar NF” *ya ampuun, gak kebayang seorang gue bisa ngomong gitu*

Tahukah kalian rasanya menyaksikan bus pariwisata, yang berisi teman-teman yang menuju jogja, mulai meninggalkan jalan di depan sekolah? #curhat

342011

Ya Allah, tingkat kepengenan gue sangat membara waktu liat foto ini

Apa lagi pas mereka pulang membawa foto-foto selama di sana. Ada sesi foto di depan Grha Sabha Pramana juga lagi. Wow, ngiri sangat! Tapi, genderang telah ditabuh. Mengapa harus menyesal dan mundur? *tsahh* mari maju ke medan juang. Di awal kelas 12, mulailah aku mengikuti NF. Tentu saja sangat ngga asik awalnya. Biasanya pulang sampai rumah jam 5-an. Pas udah mulai NF, setiap Senin dan Rabu harus rela sampai rumah jam 8.30 malam.

Begiituu terus berulang-ulang, sampai akhirnya timbul rasa males. Rekor terburukku adalah tidak datang tiga pertemuan berturut-turut. Cuma hasilnya adalah ketertinggalan yang cukup jauh (maklum, PPLS memang gayanya demikian). Singkat kata, try-out demi try-out dijalani. Dan akhirnya bisa mendapat nilai yang bisa dibilang “aman untuk masuk FH UGM”. Oh iya, dalam perjalanan ber-NF, tidak semua dari kita bisa istiqomah loh. Ada juga yang merasa terganggu kenyamanan hidupnya, dan sering bolos pada pelajaran-pelajaran tertentu.

Ada pelajaran BIP, aku lupa singkatan dari apa, yaitu pelajaran akhlak islami, konseling, dan merupakan waktu yang disediakan oleh NF untuk bertanya-tanya tentang bagaimana menghadapi SNMPTN dan menghadapi kuliah nanti. Pelajaran ini merupakan pelajaran favorit kebanyakan dari kita, untuk cabut pulang. Huehehehe. Sampai-sampai sang gurunya terlihat sedih. Karena di jam sebelumnya kelasnya penuh, tapi pas pelajaran dia tiba-tiba berkurang sebesar 67%.

Nah, di sinilah terjadi hal yang luar biasa. Aku entah mengapa bisa membaca kesedihan di mata pengajarnya, lalu berdo’a; ya Allah, luluskanlah kami, yang memilih untuk bertahan ini, di Perguruan Tinggi yang kami inginkan dan engkau kehendaki. And the result is: 100% dari yang memilih untuk mengikuti pelajaran di hari itu, dapet PTN yang diinginkan dan (insya Allah) tepat bagi mereka.

Seratus persen.

Aku sebutin yang kuinget aja ya… Manajemen UIN, Sastra Jepang UI, Komunikasi UI, MIPA UGM, FH UGM, dan masih ada lagi yang belum tersebutkan.

To get something special, you have to do something special.

Aku sangat meyakini kalimat diatas. Oh iya, mungkin kakak pengajarnya juga mendoakan kita-kita yang waktu itu memilih untuk bertahan di kelas BIP.

nilai nasionalku

Ini nilai prakiraan nasionalku. Nilai minimal masuk FH UGM adalah 675. Jadi kira-kira bisa lah masuk 😀

Mendekati pelaksanaan ujian SNMPTN, kami mulai “sadar diri”. Kami harus benar-benar berkorban agar bisa mendapatkan yang kami cita-citakan. Hehehe… kami tiba-tiba jadi rajin mengerjakan soal-soal Problem Set. Tiba-tiba jadi sering konsultasi sama kakak-kakaknya (trims Kak Sri, Kak Rahmat, Pak Max, dan Ibu, Bapak, Kakak lainnya yang belum disebutkan). Namun, tetep aja yang namanya Matematika, lagi-lagi tidak bersahabat sama diriku. Kalau pelajaran sosiologi, bisa nyesel abis kalau nggak bisa mengisi dengan benar 10 dari 15 nomor soal. Tapi kalau matematika bisa ngisi 2 nomooor aja, akan terasa bagaikan ada Ray of Light muncul dari awan… SFX: Whoang-whoang-whoang~

Kalau matematika bisa ngisi 4 nomor, berarti kepribadianku yang lain yang ngerjain. :p *ya, beneran separah itu keadaannya*

chart kemdas

Lihat betapa wow-nya nilai matematika dasarku. Nilai maks: 60 per-mata ujian.

But, thanks to Ali Arab, Fady, Dapit, dan Galih yang mau mengajariku matematika (pasti kalian kesulitan melakukannya :p). Dengan segenap usaha, akhirnya bisa juga pas SNMPTN ngerjain 5 NOMOR dengan benar. Ya ampun, harusnya gue masuk MURI tuh. Alhamdulillah..

***

30 Juni merupakan tanggal paling dagdigdug bagi kita-kita para peserta SNMPTN. Semua kemungkinan bisa terjadi pada tanggal ini. Oh iya, aku sudah mempersiapkan diri jika tidak lulus, mau memulai bisnis peternakan bebek. Ini serius. Lebih detilnya tentang kondisi tanggal 30 ini bisa dibaca di blognya Mamah. http://endohsite.blogspot.com/2011/11/jogja-i-am-coming.html

Alhamdulillah. Kehidupanku memang misterius dan tidak pernah bisa lepas dari kata Alhamdulillah. Aku ditakdirkan untuk melanjutkan belajarku di UGM. Saat itulah kurasakan apa yang namanya “nyengir 1 jam”. Nearly 1 jam, aku tidak bisa mengekspresikan apapun kecuali nyengir. 😀

Walau tidak bisa berada di depan GSP bersama teman-teman 34, at least sekarang aku bisa kapanpun datang ke GSP 😀

Alhamdulillah, alhamdulillah, all praise is to Allah, all praise is to Allah.

Terima kasih untuk Bimbel Nurul Fikri yang telah menjadi salah satu sebab yang mengantarkanku menuju batu loncatan selanjutnya untuk menggapai impian-impianku. Insya Allah. 🙂

me on ugm

Alhamdulillah. Bisa berada di jogja secara "sejati" 😀

Advertisements
Categories: impian | Tags: , , , , , , | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Ini cerita NF-ku. Bagaimana ceritamu?

  1. serius bebek nif? dapet inspirasi dari mana?
    hahaha, bagus nih cerita, inspiratif! walaupun gak sama kayak kisah ane, ane sekarang ronin. insya Allah ada kesempatan lagi tahun depan.. mohon doanya! 😀

    • neevsfc

      serius dong.. 😀
      ditapaki aja, aku pun gak nyangka bisa lulus (faktor utama: kebodohan matematika). But after all.. Alhamdulillah.

      coba lakukan hal-hal kecil yang kira-kira bisa mendukung kita dapet ridho sang Maha Kuasa. #tsahhh

      Ada temenku yang jam 9 malem, pulang les, capek, kusut, tapi bela-belain turun dari angkot untuk nolongin orang yang kecelakaan di daerah pizza hut deplu.

      Dan dia ngerasa itu salah satu faktor dia lulus PTN. ya, begitu deh… Insya Allah pasti bisa kok Hasna!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: