Eat for Life

eat. pray. love.

Sebenarnya posting kali ini bukan mau membahas buku ini. Apa lagi meneliti ketiga aspek di judul buku ini secara komprehensif (zzzt, korban UTS).

Begini. Maghrib hari ini, aku makan di Ayam Kremes Tulang Lunak (deket rumah di jogja) yang harganya cukup bersahabat. Rp 7.500 untuk nasi dan sepotong besar ayam yang bisa dimakan tulangnya plus lalap. Nah, pas akan meninggalkan tempat makan tsb. terpikirikan sesuatu olehku,

“dalam sehari biasanya pengeluaran untuk makanan berkisar 20rb, sebenarnya untuk apa ya (for what it’s worth?) aku mengeluarkan uang sebanyak sekian setiap harinya?”

***

Ada pepatah yang bilang Eat to live, not Live to eat. Ya, aku setuju sama kalimat tersebut. Hidup ini lebih dari soal perut (kan juga ada soal hati) : P
Selanjutnya, kalau kita melandaskan kepada panduan dari Al Qur’an, memang kita ini diciptakan untuk beribadah.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
{Az Zariyat: 56}

Kalau kita perhatikan ayat diatas, jelaslah bahwa kita ini berada di dunia untuk beribadah. Oh iya, perlu diingat, yang kumaksud adalah beribadah dalam arti yang luas ya..

Nah, poin yang mau kusampaikan, ingat-ingatlah biaya operasional kehidupan kita. Kan seperti yang kita tau, sebuah perusahaan yang mendapat profit adalah perusahaan yang produksinya (actually, hasil penjualannya sih) lebih besar dari biaya operasionalnya.

Kalau kita adaptasikan ke kehidupan kita, maka kita akan menjadi orang yang beruntung kalau produktivitas kita diatas biaya yang harus kita keluarkan untuk hidup. Produktivitas ini bisa berupa karya untuk diri sendiri, karya untuk orang lain (masyarakat), ataupun penghasilan berupa uang. Dengan catatan sebaiknya semua “hasil produksi” tadi sejalan dengan QS. Az Zariyat: 56 tadi. Jadi nilai ibadahnya dapet, manfaat langsungnya juga dapet.

Coba perhatikan ini, (menurutku lho) semahal dan semewah apapun makanan Pak Obama, tidak akan masalah. Karena karya dan prestasinya seimbang dengan cost yang ia keluarkan untuk ‘makanan kepresidenan’.

Apakah pak pres kita juga demikian?? 😛

Contoh lain,  ketika Jason Statham membeli Ducati Desmosedici RR *yang harganya Rp 1,8 M* tidak akan masalah, karena ketika ia gunakan Desmo-nya untuk scene-scene di film The Expendables, ia akan menghasilkan profit yang lebih banyak lagi.


*sebenernya ini kontradiktif sama dream-ku; jalan-jalan malem di kota jogja dan ciputat dengan 848 EVO* bodo 😛

Ingat, orang yang beruntung adalah orang yang value karyanya lebih besar dari operational cost-nya. 🙂

Apa lagi kalau kita sempitkan ke kehidupan mahasiswa, which is (biasanya) duitnya disuplai sama ortu. Mesti lebih bekerja keras dan berkarya dong.

Doain ya, semoga ini bukan cuma 'omdo' gue.. Amiin.

Gunakan bahan bakar kehidupan kita untuk hal-hal yang produktif bin bermanfaat.
-neevsfc

Advertisements
Categories: kehidupan bermahasiswa | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Eat for Life

  1. hesadrian

    buat ini toh yang kamu nanya-nanya tentang cost life di jogja
    oke oke

    • neevsfc

      salah satunya iya mas.
      cuma waktu itu yang lebih urgen sih, uang saku udh tinggal dikit, dan merasa selama ini gak pernah bermewah-mewahan.

      bingung aja apa standar harga makanannya beda dengan di mindset saya.. hahaha *ditunggu deh fotofoto + traktiran* 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: